Pages

ASAL USUL PENYAKIT MEMATIKAN BERNAMA HIV/AIDS

Minggu, 07 April 2013
Photo: Asal Usul Penyakit Mematikan yang
Bernama Aids


Virus HIV AIDS sebenarnya bukan berasal
dari simpanse, tetapi ciptaan para ilmuwan
yang kemudian diselewengkan melalui
rekayasa tertentu untuk memusnahkan
etnis tertentu. (Jerry D. Gray, Dosa-dosa
Media Amerika - Mengungkap Fakta
Tersembunyi Kejahatan Media Barat, Ufuk
Press 2006 h. 192). Tulisan Allan Cantwell,
Jr. M.D. ini mengungkapakan rahasia asal-
usul AIDS dan HIV, juga bagaimana
ilmuwan menghasilkan penyakit yang
paling menakutkan kemudian menutup-
nutupinya.


Teori” Monyet Hijau
Tidak sedikit orang yang sudah mendengar
teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia.
Menurut The New York Times yang terbit
29 Oktober 1990, tiga puluh persen
penduduk kulit hitam di New York City
benar-benar percaya bahwa AIDS adalah
“senjata etnis” yang didesain di dalam
laboratorium untuk menginfeksi dan
membunuh kalangan kulit hitam. Sebagian
orang bahkan menganggap teori
konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya
dibandingkan teori monyet hijau Afrika
yang dilontarkan para pakar AIDS.
Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti
telah membuktikan bahwa teori monyet
hijau tidaklah benar.


Namun kebanyakan edukator AIDS terus
menyampaikan teori ini kepada publik
hingga sekarang. Dalam liputan-liputan
media tahun 1999, teori monyet hijau telah
digantikan dengan teori simpanse di luar
Afrika. Simpanse yang dikatakan
merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah
diterima sepenuhnya oleh komunitas
ilmiah.
 “Pohon keturunan” filogenetik virus
primata (yang hanya dipahami segelintir
orang saja) ditampilkan untuk
membuktikan bahwa HIV diturunkan dari
virus primata yang berdiam di semak
Afrika. Analisis data genetika virus
ditunjukkan melalui “supercomputer” di
Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa
HIV telah “melompati spesies’, dari
simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di
Afrika.
Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada
Pria Gay (1978-1981)
Ribuan pria gay mendaftar sebagai
manusia percobaan untuk eksperimen
vaksin hepatitis B yang “disponsori
pemerintah AS” di New York, Los Angeles,
dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun,
kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom
defisiensi kekebalan terkait gay, yang
belakangan dikenal dengan AIDS. Di awal
1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan
di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan
ini dipercaya sebagai asal-usul
berevolusinya HIV. Banyak orang masih
merasa takut mendapat vaksin hepatitis B
lantaran asalnya yang terkait dengan pria
gay dan AIDS.
Para dokter senior masih bisa ingat bahwa
eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat
dari kumpulan serum darah para
homoseksual yang terinfeksi hepatitis.
Kemungkinan besar HIV “masuk” ke dalam
tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini.
Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di
New York pada awal 1978 dan di kota-kota
pesisir barat sekitar tahun 1980-1981.
Apakah jenis virus yang terkontaminasi
dalam program vaksin ini yang
menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan
program WHO di Afrika? Bukti kuat
menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak
lama setelah program vaksin ini. AIDS
merebak pertama kali di kalangan gay New
York City pada tahun 1979, beberapa bulan
setelah eksperimen dimulai di Manhattan.
Ada fakta yang cukup mengejutkan dan
secara statistik sangat signifikan, bahwa
20% pria gay yang menjadi sukarelawan
eksperimen hepatitis B di New York
diketahui mengidap HIV positif pada tahun
1980 (setahun sebelum AIDS menjadi
penyakit “resmi’).
Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan
memiliki kejadian HIV tertinggi
dibandingkan tempat lainnya di dunia,
termasuk Afrika, yang dianggap sebagai
tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain
yang juga menghebohkan adalah bahwa
kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan
baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah
peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin
inilah yang berfungsi sebagai saluran
tempat “berjangkitnya” HIV ke populasi gay
di Amerika. Namun hingga sekarang para
ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun
antara AIDS dengan vaksin tersebut.
Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS
berjangkit pada orang heteroseksual,
sementara di Amerika Serikat AIDS hanya
berjangkit pada kalangan pria gay.
Meskipun pada awalnya diberitahukan
kepada publik bahwa “tak seorang pun
kebal AIDS”, faktanya hingga sekarang ini
(20 tahun setelah kasus pertama AIDS),
80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat
berjangkit pada pria gay, pecandu
narkotika, dan pasangan seksual mereka.
Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak
mendiskriminasi preferensi seksual atau
ras tertentu. Apakah benar demikian?
Keserupaan dengan FLU Burung
Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli
biologi berhasil mengidentifikasi
setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang
menginfeksi berbagai orang di seluruh
dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain
pra dominan yang menginfeksi gay di AS.
Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi
jaringan rektum, itu sebabnya para gay
yang cenderung menderita AIDS
dibandingkan non-gay
Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai
di Afrika cenderung menginfeksi vagina
dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana
kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika,
HIV cenderung berjangkit pada kalangan
heteroseksual.
Para pakar AIDS telah memeberitahukan
bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika,
padahal Strain HIV yang umum dijumpai di
kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat
di Afrika! Bagaimana bisa demikian?
Apakah sebagian Strain HIV direkayasa
agar mudah beradaptasi ke sel yang
cenderung menginfeksi kelamin gay?
Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special
Virus Cancer Program) mampu
mengadaptasi retrovirus tertentu agar
menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang
sejak tahun 1970, para ilmuwan perang
biologis telah belajar mendesain agen-agen
(khususnya virus) tertentu yang bisa
menginfeksi dan menyerang sel kelompok
rasial “tertentu”.
Setidaknya tahun 1997, Stephen O’Brien
dan Michael Dean dari Laboratorium
Keanekaragaman Genom di National Cancer
Institute menunjukkan bahwa satu dari
sepuluh orang kulit putih memiliki gen
resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam
Afrika tidak memiliki gen semacam itu
sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin
merupakan “virus buatan manusia yang
menyerang ras tertentu” dibandingkan
peristiwa alamiah.
Berkat bantuan media Amerika, virus ini
menyebar ke jutaan orang tertentu di
seluruh dunia sebelum segelintir orang
mulai waspada akan kejahatan di balik
penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat
kesehatan memastikan “masyarakat
umum” bahwa tak ada yang perlu
dikhawatirkan. “AIDS adalah penyakit gay”
adalah jargon yang sering
dikumandangkan media.
Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo
memberitahu reporter Playboy, David Black,
“Saya pribadi belum pernah menemukan
satu kasus pun (di Amerika) dimana pria
terkena virus (AIDS) dari seorang wanita
melalui hubungan intim heteroseksual .”
Gallo melanjutkan, “AIDS tak akan menjadi
bahaya yang tak bisa teratasi bagi
masyarakat umum.” Apakah ini sekedar
spekulasi ataukah Gallo mengetahui
sesuatu yang tidak ia ceritakan?








Virus HIV AIDS sebenarnya bukan berasal dari simpanse, tetapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu. (Jerry D. Gray, Dosa-dosa Media Amerika - Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat, Ufuk Press 2006 h. 192). Tulisan Allan Cantwell, Jr. M.D. ini mengungkapakan rahasia asal- usul AIDS dan HIV, juga bagaimana ilmuwan menghasilkan penyakit yang

paling menakutkan kemudian menutup- nutupinya.


Teori” Monyet Hijau Tidak sedikit orang yang sudah mendengar teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia. Menurut The New York Times yang terbit 29 Oktober 1990, tiga puluh persen penduduk kulit hitam di New York City benar-benar percaya bahwa AIDS adalah
“senjata etnis” yang didesain di dalam laboratorium untuk menginfeksi dan membunuh kalangan kulit hitam. Sebagian orang bahkan menganggap teori konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya dibandingkan teori monyet hijau Afrika yang dilontarkan para pakar AIDS. Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti telah membuktikan bahwa teori monyet
hijau tidaklah benar.


Namun kebanyakan edukator AIDS terus menyampaikan teori ini kepada publik hingga sekarang. Dalam liputan-liputan media tahun 1999, teori monyet hijau telah digantikan dengan teori simpanse di luar Afrika. Simpanse yang dikatakan merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah diterima sepenuhnya oleh komunitas
ilmiah. “Pohon keturunan” filogenetik virus primata (yang hanya dipahami segelintir
orang saja) ditampilkan untuk membuktikan bahwa HIV diturunkan dari
virus primata yang berdiam di semak Afrika. Analisis data genetika virus ditunjukkan melalui “supercomputer” di Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa
HIV telah “melompati spesies’, dari
simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di
Afrika. Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada Pria Gay (1978-1981) Ribuan pria gay mendaftar sebagai manusia percobaan untuk eksperimen vaksin hepatitis B yang “disponsori
pemerintah AS” di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun, kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom defisiensi kekebalan terkait gay, yang belakangan dikenal dengan AIDS. Di awal 1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan
di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan ini dipercaya sebagai asal-usul berevolusinya HIV. Banyak orang masih merasa takut mendapat vaksin hepatitis B
lantaran asalnya yang terkait dengan pria gay dan AIDS. Para dokter senior masih bisa ingat bahwa eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat dari kumpulan serum darah para
homoseksual yang terinfeksi hepatitis. Kemungkinan besar HIV “masuk” ke dalam tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini.
Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di New York pada awal 1978 dan di kota-kota
pesisir barat sekitar tahun 1980-1981. Apakah jenis virus yang terkontaminasi
dalam program vaksin ini yang menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan
program WHO di Afrika? Bukti kuat menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak
lama setelah program vaksin ini. AIDS merebak pertama kali di kalangan gay New
York City pada tahun 1979, beberapa bulan setelah eksperimen dimulai di Manhattan.
Ada fakta yang cukup mengejutkan dan secara statistik sangat signifikan, bahwa 20% pria gay yang menjadi sukarelawan eksperimen hepatitis B di New York diketahui mengidap HIV positif pada tahun 1980 (setahun sebelum AIDS menjadi penyakit “resmi’).
Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan memiliki kejadian HIV tertinggi dibandingkan tempat lainnya di dunia, termasuk Afrika, yang dianggap sebagai tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain yang juga menghebohkan adalah bahwa kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin inilah yang berfungsi sebagai saluran tempat “berjangkitnya” HIV ke populasi gay
di Amerika. Namun hingga sekarang para ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun antara AIDS dengan vaksin tersebut. Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS
berjangkit pada orang heteroseksual, sementara di Amerika Serikat AIDS hanya berjangkit pada kalangan pria gay. Meskipun pada awalnya diberitahukan
kepada publik bahwa “tak seorang pun kebal AIDS”, faktanya hingga sekarang ini
(20 tahun setelah kasus pertama AIDS), 80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat berjangkit pada pria gay, pecandu narkotika, dan pasangan seksual mereka.
Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak mendiskriminasi preferensi seksual atau ras tertentu. Apakah benar demikian? Keserupaan dengan FLU Burung Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli biologi berhasil mengidentifikasi setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang
menginfeksi berbagai orang di seluruh dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain
pra dominan yang menginfeksi gay di AS. Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi
jaringan rektum, itu sebabnya para gay yang cenderung menderita AIDS dibandingkan non-gay Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai di Afrika cenderung menginfeksi vagina
dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika, HIV cenderung berjangkit pada kalangan heteroseksual. Para pakar AIDS tela memeberitahukan bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika, padahal Strain HIV yang umum dijumpai di
kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat di Afrika! Bagaimana bisa demikian? Apakah sebagian Strain HIV direkayasa agar mudah beradaptasi ke sel yang cenderung menginfeksi kelamin gay? Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special Virus Cancer Program) mampu mengadaptasi retrovirus tertentu agar menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang
sejak tahun 1970, para ilmuwan perang biologis telah belajar mendesain agen-agen
(khususnya virus) tertentu yang bisa menginfeksi dan menyerang sel kelompok
rasial “tertentu”. Setidaknya tahun 1997, Stephen O’Brien
dan Michael Dean dari Laboratorium Keanekaragaman Genom di National Cancer
Institute menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang kulit putih memiliki gen
resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam Afrika tidak memiliki gen semacam itu sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin merupakan “virus buatan manusia yang
menyerang ras tertentu” dibandingkan peristiwa alamiah. Berkat bantuan media Amerika, virus ini menyebar ke jutaan orang tertentu di seluruh dunia sebelum segelintir orang mulai waspada akan kejahatan di balik penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat kesehatan memastikan “masyarakat umum” bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. “AIDS adalah penyakit gay”  adalah jargon yang sering dikumandangkan media. Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo memberitahu reporter Playboy, David Black,
“Saya pribadi belum pernah menemukan satu kasus pun (di Amerika) dimana pria terkena virus (AIDS) dari seorang wanita melalui hubungan intim heteroseksual .” Gallo melanjutkan, “AIDS tak akan menjadi bahaya yang tak bisa teratasi bagi masyarakat umum.” Apakah ini sekedar spekulasi ataukah Gallo mengetahui sesuatu yang tidak ia ceritakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan pake kata-kata kotor .